Home Sastra Bali dan Maharaja Bali

Bali dan Maharaja Bali

97
0
Bali dan Maharaja Bali
Bali dan Maharaja Bali

Salah satu tonggak yang dapat dikatakan paling menonjol dalam sejarah Bali adalah kedatangan Rsi Markandya sekitar abad VII Masehi. Konon sang pendeta mendapat wahyu untuk membuka hutan di wilayah Bali ketika mengadakan pertapaan di Gunung Raung.

Misi pertama sang pendeta mendalami kegagalan sebab orang-orang Desa Age yang mengiringi perjalanannya banyak yang meninggal akibat terserang wabah gudu (malaria). Setelah memohon petunjuk gaib, misi kedua sang pendeta menemui kesuksesan sebab segala kegiatan yang akan dilakukan didahului oleh caru pengruwak.

Dari sinilah kemudian Bali semakin nyata terbangun sebagai pulau persembahan/ritual sebagaimana arti harafiah dari kata Bali sendiri. Tidak hanya berhenti sampai di sana, sang pendeta memberikan perhatian khusus pada pendirian bangunan-bangunan pemujaan dengan terlebih dahulu melakukan penanaman Panca Datu. Menariknya tempat sang pendeta melakukan penanaman Panca Datu kemudiaan dikenal dengan nama Basukihan yang selanjutnya berkembang menjadi pura terbesar di Bali.

Secara cerdas Rsi Markandya melakukan penataan kehidupan masyarakat Bali agar berhulu pada aspek-aspek ketuhanan layaknya Pura Besakih yang terletak di huluning Jagat Bali. Pura Besakih menjadi monumen kehidupan yang menarik setiap orang yang meskipun telah pergi terlalu jauh ke wilayah materi (prakrti) agar kembali ingat akan janji dirinya dalam wilayah ketuhanan. Demikianlah setiap kali digelar upacara besar maupun kecil di Pura Besakih barisan manusia berduyun-duyun datang menghaturkan puja, tidak hanya yang beragama Hindu namun peminat spiritual non Hindu pun banyak yang tertarik bertandang ke Besakih.

Bahkan banyak yang merasa belum lengkap jika datang ke Bali tanpa menyambangi Besakih. Rsi Markandya benar-benar sukses menjadikan Besakih sebagai poros spiritual universal yang berkontribusi besar mengharumkan nama Bali di kancah dunia. Prestasi membanggakan lainnya dari Rsi Markandya adalah keberhasilan membudayakan pembuatan sarana upakara (banten) dengan bentuk serba indah. Belakangan orang-orang asingpun menaruh takjub pada banten sehingga tertarik untuk mengikuti privat dengan harapan sekadar mahir membuat canang sari.

Suaru arus pikir yang berkebalikan mewabah pada manusia Bali sendiri. Memang masih banyak yang menakzimkan legenda-legenda atas tenget (angkernya) Tanah Bali. Keangkeran tersebut menyebabkan Tanah Bali dipandang senantiasa memita upeti dalam bentuk banten, celakanya kemudian hanya dimaknai dalam tataran wujud. Memang cara karma kanda seperti yang dominan tampak di Bali memberikan ruang lebih bebas kepada segala lapisan pemuja yang ingin mengekspresikan rasa syukur, terimakasih, permohonan maaf, hingga penyesalan kepada kekuatan-kekuatan yang berada di luar kuasa manusia. Orang-orang yang tidak pernah membaca  susastra keagamaanpun turut merasakan kebahagiaan usai mempersembahkan sesajian yang disusun dengan seelok mungkin. Nyatanya kini pergeseran yang sangat mengkhawatirkan semakin bertambah parah.

Jelang rerahinan atau ritual-ritual keagamaan cukup banyak kepala keluarga yang dilanda cemas, dipaksa memutar otak dengan keras untuk mendapatkan uang guna membeli sarana-sarana upakara. Kriteria sarana upakara tidak lagi mengikuti standar ketuhanan tetapi lebih banyak diperhamba oleh selera pasar yang tentu menjerumus ke tema eksibisionik.

Ibu-ibu paruh baya berebut berburu buah impor yang sedang trend karena merasa tidak percaya diri mengusung banten yang berbahan buah-buahan biasa, diperparah lagi dengan ulah gadis-gadis remaja yang ngambek meminta dibelikan kebaya model terbaru. Tentulah ketika rerahinan atau upacara-upacara keagamaan menjadi momok yang menakutkan serta ajang pamer maka esensi persembahan tertinggi (atmanivedana) tidak akan bisa diraih.

Rasa tinggi hati diluapkan manusia Bali berkaitan dengan keberadaan leluhurnya yang diyakini merupakan manusia-manusia pilih tanding sebab telah sukses berketurunan pada suatu pulau yang tenget. Superiorotas genetik itu kemudiaan dituturkan turun temurun hingga sampai pada orang-orang Bali yang hidup di masa sekarang. Terlebih setelah kejatuhan Majapahit 1478 M, orang Bali merasa tanahnya menjadi gudang penyimpanan kekayaan-kekayaan Hindu Nusantara yang sangat berharga.

Kelirunya, penganut Hindu Bali kemudiaan terjebak oleh rasa menjadi pemeluk Hindu paling benar. Etnosentrisme di Bali nyatanya tidak sesederhana kriteria nak Bali dan nak Jawa atau perbedaan agama sebagaimana yang dikemukakan oleh beberapa pengamat. Kenyataannya etnosentris-me justru lebih tajam terjadi dalam ruang yang lebih intern. Sama-sama menganut Agama Hindupun dibedakan dengan tegas oleh orang Bali, antara Hindu Bali dan bukan Hindu Bali. Bahkan orang Bali yang mendapat pengaruh luar seperti India dipandang telah berbeda.

Oleh karenanya kemudian muncul pertentangan antara kelompok yang masih memegang teguh kebaliannya dengan individu atau kelompok yang berupaya keras belajar Agama Hindu langsung ke tanah kelahirannya.

Masing-masing punya pembenaran yang kuat pengikut setia Hindu Bali beralasan pemertahanan tatacara beragama ala leluhurnya telah final. Diyakini leluhurnya merupakan manusia-manusia cerdas yang wawasannya tidak cuma berputar dalam tempurung tetapi telah latah mondar mandir mengarungi lautan termasuk ke India. Buktinya beberapa lontar yang tersebar di Bali ada yang mencirikan tatabahasa sanskerta yang mapan.

Hanya saja sebagian budaya India urung dikembangkan di Bali karena tidak sesuai dengan kepribadian asli pulau ini. Kelompok yang jatuh cinta pada budaya India tidak kalah argumen, mereka menyoroti kekeliruan golongan penyuka tradisi lama yang dinilai telah ketinggalan zaman sebab masih terlalu banyak melakukan ahimsa dan pemborosan ritual, tetapi alpa membaca Veda sehingga tidak memiliki pemahaman tentang Hindu yang benar.

Anehnya orang Bali justeru kehilangan etnosentrismenya ketila berhadapan dengan kekuasaan kapitalisme yang lebih luas serta berbahaya. Misalnya pemakaian junk food, buah, minuman, serta produk lainnya sebagai bahan banten yang dominan memperkaya pemilik modal di luar komunitas Hindu dan tidak mencerminkan identitas kehinduan samasekali.

Para manajer pemasaran mengalami hambatan-hambatan budaya pada beberapa negara ketika hendak menjual produk-produknya sebagaimana yang sempat melanda brand minuman terkenal Coca-Cola di Tiongkok, namun Bali menjadi pasar yang ramah karena tidak pernah menunjukkan penolakan apapun.

Thomas Reuter dalam suatu seminarnya sempat mengkritisi kebiasaan orang Bali yang gandrung menggunakan junk food sebagai bagian dari banten. Lucunya kritik sang profesor yang bertahun-tahun mencermati Bali dalam penelitian-penelitiannya tampaknya tidak ditindaklanjuti secara serius.

Pandit Shastri dalam bukunya Sejarah Bali Dwipa (1963) mengaitkan pulau Bali dengan Maharaja Bali setelah menyaksikan penduduk di pegunungan Kintamani yang bertubuh tinggi besar. Dalam teks Purana dikisahkan Maharaja Bali adalah keturunan Hiranyakasipu yang dianugerahi kemakmuran oleh Dewi Laksmi dan gemar melakukan yajna.

Sayangnya Bali agak congkak ketika merasa berada di atas angin, mirip celoteh orang Bali yang berbunyi jaen idup di Bali. Hal ini menyebabkan Bali tidak peka oleh kemahakuasaan Visnu yang telah bermaha-sambhuti sebagai manusia kerdil dan akhirnya mengambil seluruh kerajaannya. Demikianlah sejarah akan terulang pada orang-orang Bali bila masih melembagakan tamasika yajna dan tidak peka terhadap ancaman-ancaman yang dipandang remeh.

Oleh: I Putu Suweka Oka Sugiharta
Source: PHDI.or.id

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here