Home Sejarah Sejarah Perang Tulamben Tahun 1667

Sejarah Perang Tulamben Tahun 1667

2377
0
Sejarah Perang Tulamben Tahun 1667
Sejarah Perang Tulamben Tahun 1667

Hindu IndonesiaSejarah Perang Tulamben Tahun 1667. Pada tahun 1667 terjadi perang antara Pelaut-pelaut Bugis dengan Desa Tulamben. Desa Tulamben saat itu dipimpin oleh seorang kepala desa bernama Ki Jatiwiyasa atau lebih dikenal dengan sebutan Ki Pasek Tulamben, karena Ki Jatiwiyasa merupakan sesepuh Warga Pasek di Desa Tulamben. Pasek juga berarti Pasak atau Pacek yang berarti memperkuat atau penguasa di Desa  atau disebut juga Prebekel atau Bendesa.

Pada perang ini praktis Desa Tulamben tidak mendapat bantuan dari prajurit kerajaan karena suasana kerajaan masih kacau balau akibat pemberontakan Krian Agung Maruti. Sehingga perang ini hanya melibatkan masyarakat Desa Tulamben dengan pimpinannya Ki Jatiwiyasa dengan orang perahu dari Bugis.

Adapun penyebab perang itu konon karena persoalan JUDI. Menurut ceritra rakyat yang berkembang disekitar Tulamben, perkelahian diawali saat di Desa Tulamen ada Sabungan Ayam (judi). Pada saat ada sabungan ayam di Desa Tulamben, berlabuhlah  serombongan pedagang dari Bugis.

Para Pedagang itu tertarik ingin membeli sebuah batu pipih yang rata (cili kumalasa) yang terdapat dihalaman pura melanting. Para Pedagang dari Bugis memperkirakan bahwa batu itu adalah batu mulya yang bernilai jual sangat tinggi. Sedangkan penduduk Desa Tulamben mengaggap batu itu batu keramat karena didalamnya berisi cili emas dengan guratan gambar dewa-dewi.

Tetapi oleh orang Tulamben batu itu dijadikan taruhan Judi dengan imbalan sendainya orang perahu yang kalah maka orang perahu (Bugis) harus menyerahkan seluruh isi perahunya kepada penduduk Tulamben, sedangkan apabila orang Tulamben yang kalah maka Orang Tulamben akan menyerahkan batu tersebut kepada Orang Perahu.

Orang Perahu (Bugis) meminta membeli ayam jantan untuk aduan dengan syarat ayam putih mulus dengan cuma sehelai bulu ekornya hitam. Namun, tak satu pun penduduk Tulamben kala itu memiliki ayam jago seperti itu. Namun, mereka tak kurang akal memperdaya wong Bugis. Seekor ayam putih total, dicabuti salah satu bulu ekornya. Dari lubang bekas cabutan bulu ekor itu dimasukkan ekor bulu ayam hitam. Agar tak bisa bertarung, leher ayam jago yang bakal dijual ke orang Bugis  itu digantungi seikat uang kepeng*.

Besoknya adu ayam jago pun digelar. Pada akhirnya, ayam itu sama sama lelah dan digelar ronde pruput. Ternyata, ayam jago milik wong Tulamben tajinya nyangkut di sangkar, sehingga tak bisa menyerang. Kerena lelah, tak berdiri, tak bisa menyerang, Ayam jago  milik wong Tulamben duduk. Sementara, meski tak bisa menyerang ayam jago milik wong Wajo tetap berdiri. Saya (wasit tajen*) pun memutuskan kalau adu ayam jago itu sapih alais imbang*.

Wong Bugis sempat hendak kembali ke kapalnya di pantai Tulamben. Setelah berunding di perjalanan, wong Bugis itu kembali lagi ke arena judi ayam jago, dan menyatakan tak terima ayamnya dikalahkan, karena ayamnya masih berdiri, sementara ayam milik orang Tulamben terduduk. Dari sinilah huru-hara dimulai.

Orang-orang Tulamben tetap tidak mau dikalahkan karena  angkuh dan sombong, merasa lebih banyak. Karena merasa lebih sedikit masanya maka orang perahu kembali ke perahunya ditengah laut. Orang Bugis pun menurut  versi Babad Pasek yang diterjemahkan oleh  IGst. Bgs. Sugriwa dan tercantum juga di dalam Babad Pamancangah Arya Kubon Tubuh/Kuta Waringin, mulai membuat strategi  menyerang desa Tulamben.

Perkelahian pun terjadi, Penduduk Desa Tulamben diserang oleh Orang perahu (Bugis). Ki Jatiwiyasa sebagai sesepuh Desa tidak tinggal diam membiarkan warganya diserang oleh orang luar. Ki Jatiwiyasa pun ikut melibatkan diri dalam perkelahian itu untuk membela warganya.

Orang Tulamben kalah dalam persenjataan, Orang Tulamben bersenjatakan keris sedangkan Orang perahu bersenjata bedil, sehingga meskipun orang perahu kalah jumlah tetapi menang dalam persenjataan, sehingga banyak penduduk tulamben mati sedangkan yang masih hidup kocar kacir menyelamatkan diri. Diantara yang mati itu termasuk Ki Jatiwiyasa (atau lebih dikenal dengan sebutan Ki Pasek Tulamen)  dan keluarganya.

Anak-anak kecil yang selamat dari perkelahian dan tidak sempat melarikan diri kemudian ditawan dan dibawa ke dalam perahu termasuk Surowiroaji anak dari Ki Pasek Tulamben (Ki Jatiwiyasa) yang saat itu baru berumur sekitar 6-7 tahunan-an.

Karena semua penduduk melarikan diri dan Tulamben hancur menjadi puing puing karena di bakar oleh orang perahu (Bugis) Sehingga Desa Tulamben sepi sunyi. Dan Surowiroaji ditinggal mati dalam perang oleh keluarganya, sehingga menjadi yatim piatu.

Ki Jatiwiyasa atau lebih dikenal dengan sebutan Ki Pasek Tulamben adalah anak dari Ki Tirtawijaya Sukma, keturunan Kiyayi Agung Padang Subadra II.  Kiyayi Ageng Padang Subadra adalah seorang Bangsawan di zaman Singosari (Jawa Timur). Pada invasi majapahit ke Bali tahun 1342 Gadjah Mada menyertakan keturunan Ki Ageng Padang Subadra yaitu Ki Ageng Padang Subadra II menyertai Patih Gadjah Mada menyerang kerajaan Bali dari Tianyar.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here