Home Upakara Ini Makna Simbolik Banten Sunda

Ini Makna Simbolik Banten Sunda

21
0
Ini Makna Simbolik Banten Sunda
Ini Makna Simbolik Banten Sunda

Hindu IndonesiaIni Makna Simbolik Banten Sunda. Dalam kehidupan bermasyarakat saat ini tidak sedikit orang yang menganggap banten atau sajen yang dipergunakan Agama Hindu berbenturan dengan norma-norma agama tertentu, namun bila kita mengetahui makna dan arti yang tercantum dalam banten kita tidak akan menganggap banten sebagai hal yang tabu lagi.

Hal ini disebabkan karena banten merupakan warisan budaya yang diturunkan secara turun temurun dari leluhur yang harus kita jaga dan lestarikan.

Banten mengandung makna pemberian persembahan sebagai tanda penghormatan atau rasa syukur manusia terhadap semua yang terjadi di alam sekitar kita. Banyak yang menganggap banten adalah suatu hal yang musyrik. Tetapi sebenarnya banten memiliki suatu simbol dan makna atau siloka didalam banten yang harus kita pelajari.

Siloka adalah penyampaian dalam bentuk pengandaian atau gambaran yang berbeda (Aphorisma). Kearifan lokal yang disimbulkan dalam sebuah banten perlu dipelajari dan bukan disalahkan karena itu adalah kearifan budaya lokal yang sudah diturunkan oleh leluhur, dan kita sebagai generasi penerus berkewajiban memahami, mempelajari, meneruskan dan melestarikan warisan leluhur berupa banten

Arti dan Makna Banten atau Sesajen Menurut Budaya Sunda

Sajen asal kata dari sesaji yang mengandung makna Sa-Aji-an atau kalimat yang disimbolkan dengan bahasa rupa bukan bahasa sastra, dimana didalamnya mengandung mantra atau kekuatan metafasik atau supranatural.

Kata Sajen berasal dari kata Sa dan ajian:
– Sa bermakna Tunggal
– Aji bermakna Ajaran
– Sa bermakna Seuneu, bara atau Api (Aura-energi)

Bermakna Sa Ajian atau ajaran yang Tunggal atau menyembah kepada Tuhan Yang Maha Esa. Sesajen mengisyaratkan bahwa keganasan atau kedinamisan alam, dapat diatasi atau ditangani dengan upaya menyatukan diri dengan Alam atau beserta alam, bukan dengan cara merusak atau menguasai alam. Ritual ini merupakan bentuk metafora atau Siloka penyatuan manusia dengan Alam. Kata Sa-ajian secara keseluruhan bermakna menyatukan keinginan (kahayang-kahyang) dengan keinginan alam atau beserta alam (menyatu dengan alam).

Secara keseluruhan kata “sajen” mempunyai makna energi ajaran Hyang Maha Tunggal (monotheisme). Makna Sesajen dalam konteks Sunda Purba bermakna negara. Siloka dalam upacara sesajen adalah penyampaian dalam bentuk pengandaian atau gambaran yang berbeda (aphorisma). Kearifan lokal (local genius) yang disimbolkan dalam sesajen yang diturunkan oleh leluhur kita.

Pada akhirnya sesajen bermakna mengimplentasikan pemahaman ajaran ke-Tuhan-an dalam kehidupan sehari-hari dengan sebaik-baiknya, menjadi ajaran dan agama (keyakinan) yang dipegang secara turun-temurun, untuk kebaikan lahir dan batin di dunia dan sunyata Dalam bahasa Sunda Rahayu lahir sinareng batin ayeuna jeung engke jagana.

Makna dan Arti Yang Terkandung Dalam Media Banten atau Sejajen Menurut Ajaran Sunda

1. Parupuyan dan Menyan
Parupuyan adalah tempat arang/bara api yang terbuat dari tanah (tempat saripati atau badan sakujur). Merah melambangkan api, kuning melambangkan angin, Putih melambangkan Air, dan Hitam melambangkan Tanah.

Bermakna bahwa saripati dari air, angin, air dan tanah adlah asal badan sakujur atau penopang hidup. Membakar kemenyan atau ngukus bermakna ngudag “Kusumaning Hyang Jati“. Bermakna mengkaji dan menghayati serta menelesuri hakekat dan nilai-nilai Ke-Tuhan-an. Menyan bermakna Temen tur nyaan/nu enyana/sa enya-enyana atau sebenar-benarnya. Secara keseluruhan bermakna dalam mendalami, mengkaji dan menghayati harus sungguh-sungguh dan sebenar-benarnya.

Wangi kemenyan bermakna SILIH WAWANGIAN atau berbuat Kebajikan. Kini dalam tradisi sunda ada juga mengganti dengan hio/dupa karena lebih simpel.

2. Amparan atau Samak/Tikar
Bermakna kudu Saamparan Samaksud Satujuan, Sakabeh tujuan jeung maksud diamparan ku Ka Tuhanan, Ka Manusaan, Ka Bangsaan, Ka Rahayatan, Ka adilan atau sesungguhnya kita harus satu maksud, satu tujuan yang semuanya itu harus didasari oleh nilai-nilai Ke Tuhanan, Ke Manusiaan, Ke Bangsaan, Ke Rakyatan, Ke Adilan.

3. Alas Lawon Bodas (kain Putih Sebagai Alas)
Bermakna hendaknya dalam tindakan dan ucapan harus dilandasi oleh kebersihan HATI, PIKIRAN atau KEBERSIHAN LAHIR dan BATIN.

4. Kendi di Eusi Cai Make Hanjuang (Kendi diisi Air diberi Daun Hanjuang)
Kendi bermakna taneuh atau tanah. Bermakna Air Hanjuang bermakna HaNa Ing Juang {Hana: Hirup/Aya (Hidup/Ada), Juang: Berjuang}. Bermakna hirup kudu berjuang gawe pikeun lemah cai atau babakti ka nagari atau bebela ka Nagara atau hidup harus berjuang berbakti pada nusa dan bangsa.

5. Sang Saka Dwi Warna (Sasaka Pusaka Buhun Djawadwipa)
Bermakna Dwi Warna atau dua warna (Waruna), yaitu Beureum jeung Bodas, bermakna merah dan putih. Beureum bermakna Indung/Ibu Pertiwi dan bodas bermakna Bapa/Rama. Sang Saka bermakna Soko. Bermakna bahwa suatu kewajiban kita menghargai orang tua yang telah melahirkan dan mengurus kita, juga tanah air yang telah memberi kehidupan. Bakti kepada orang tua, bangsa dan negara menjadi keutamaan dalam kehidupan.

6. Rujak Tujuh Rupa
Rujak bermakna rasa, seperti manis, pahit, asam, keset, pedas, asin, dan sebagainya.Tujuh rupa bermakna 7 poe atau tujuh hari. Secara keseluruhan bermakna: “dina tujuh poe pangggih jeung rupa-rupa kahirupan.” Yang artinya: Dalam Tujuh Hari kita mengalami berbagai rasa kehidupan.

8. Kopi Pait, Kopi Amis Jeung Cai Asak Herang di Wadahan Kana Batok
Bermakna: “Sajeroning lampah hirup pinasti ngaliwatan papait jeung mamanis nu sakuduna digodog, diasakan dina babatok (pikiran, elingan) wening ati herang manah“.
Yang artinya: Dalam laku lampah kehidupan pasti melalui kepahitan dan manis yang semestinya diolah, dikaji dalam tempurung (pikiran, elingan) dalam Hati yang tenang dan bersih).

9. Sangu Tumpeng
Bermakna tumpuk-tumpuk ngajadi hiji sahingga mangpaat keur kahirupan urang, ulah rek pakia-kia pagirang-girang tampian kawas remeh sumawur teu paruguh.
Nasi tumpeng atau banyak dikenal dengan istilah “tumpeng” saja, adalah sajian khas yang banyak dijumpai dalam acara perayaan atau “selamatan” baik di desa-desa maunpun di kota-kota besar di pulau Jawadwipa, Bali, dan pulau-pulau lainnya di Indonesia sampai sekarang.

Tumpeng menjadi materi penting dalam acara pemujaan atau selamatan tradisi budaya Sunda. Walaupun diakui sebagai Simbol penting sebuah acara pemujaan dan selamatan, namun sebenarnya tidak banyak orang mengetahui yang memahami makna dibalik perupaannya. Tumpeng sendiri sebenarnya menjadi simbol yang mengangkat hubungan antara manusia dengan Tuhannya, dengan Alam dan dengan Sesama Manusia.

10. Bakakak hayam (bakak ayam)
Bermakna pasrah sumerah ka Gusti (tumamprak lir bakakak)

11. Puncak manik (congcot nu di luhurna aya endog hayam)
Bermakna: “Puncak tina kahirupan nyaeta silih ajenan ka sasama.Endog teh mamana cita-cita kahirupan nu bakal ngalahirkeun laku lampah hade
Yang artinya: Puncak dalam kehidupan yaitu saling menghargai terhadap sesama. Telur diibaratkan sebagai awal mula kehidupan yang bakal melahirkan prilaku baik.

12. Daun jati tilu lambar (Daun Jati Tiga Lembar)
Bermakna: “Manusa dina ngajalankeun hirup jeung ka hirupan kudu dumasar kana TEKAD, UCAP jeung LAMPAH nu SAJATINA
Artinya: Menjalani kehidupan harus didasari dengan Tekad, Ucapan dan Tingkah Laku yang Baik.

13. Lemareun/seupaheun (ngalemar/nyirih)
Bermakna: “Mun urang rek ngucap, lumaku jeung lumampah ulah rek gurung gusuh tapi kudu di beuweung di utahkeun, persis nu nyeupah
Artinya: Kalau kita berbicara, berprilaku dan bertindak jangan terburu-buru, tapi harus di pikir dan dicerna terlebih dahulu, persis ketika ngalemar/nyirih.

Ieu kabeh teh simbul siloka keur ajieun urang supaya hirup teu kasasar lampah
Artinya: Ini semua adalah simbol siloka untuk kajian kita semua, supaya hidup tidak kesasar/celaka.

Intinya adalah di dalam sesajen terdapat nilai luhur kearifan lokal yang dijadikan pedoman pandangan hidup agar kita tidak salah dalam melangkah. Demikian dapat saya ketengahkan beberapa makna simbolik yang terdapat pada sesajen Sunda. Semoga bermanfaat bagi kita semua, dan bagi kemajuan Umat Hindu Nusantara. Jayalah Hindu. Jayalah Nusantara.

Ahung Tatya Ahung
Rahayu Rahayu Rahayu
Om Santih Santih Santih Om

sumber phdi.or.id

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here