Ajaran Sri Rama Mengenai Nasionalisme dan Cinta Tanah Air

24
0

Tanah Air adalah tempat dimana kita memijakkan diri kita di bumi ini. Sri Rama mengajarkan kita agar tetap mencintai tanah air dan bumi pertiwi tempat kita berpijak.

Ajaran Sri Rama mengenai nasionalisme dan cinta tanah air membuat kecintaan kita akan negara tempat kita tinggal yaitu Indonesia.

Dengan ajaran yang diberikan oleh Sri rama ini semoga nasionalisme dan kecintaan kita terhadap tanah air Indonesia ini tetap terjaga.

Berikut Ajaran dari Sri Rama tentang Nasionalisme dan cinta tanah air

Ajaran Sri Rama Mengenai Nasionalisme dan Cinta Tanah Air

Dalam Ayodyakanda dalam kitab Ramayana dikisahkan bahwa Dasarata yang sudah tua ingin mengangkat Rama sebagai raja. Dengan segera ia melakukan persiapan untuk upacara penobatan Rama, sementara Bharata menginap di rumah pamannya yang jauh dari Ayodhya.

Mendengar Rama akan dinobatkan sebagai raja, Mantara menghasut Kekayi agar menobatkan Bharata sebagai raja. Kekayi yang semula hanya diam, tiba-tiba menjadi ambisius untuk mengangkat anaknya sebagai raja. Kemudian ia meminta agar Dasarata menobatkan Bharata sebagai raja.

Ia juga meminta agar Rama dibuang ke tengah hutan selama 14 tahun. Dasarata pun terkejut dan menjadi sedih, namun ia tidak bisa menolak karena terikat dengan janji Kekayi. Dengan berat hati, Dasarata menobatkan Bharata sebagai raja dan menyuruh Rama agar meninggalkan Ayodhya. Sita dan Laksmana yang setia turut mendampingi Rama. Tak berapa lama kemudian, Dasarata wafat dalam kesedihan.

Sementara Rama pergi, Bharata baru saja pulang dari rumah pamannya dan tiba di Ayodhya. Ia mendapati bahwa ayahnya telah wafat serta Rama tidak ada di istana. Kekayi menjelaskan bahwa Bharata-lah yang kini menjadi raja, sementara Rama mengasingkan diri ke hutan.

Bharata menjadi sedih mendengarnya, kemudian menyusul Rama. Harapan Kekayi untuk melihat puteranya senang menjadi raja ternyata sia-sia. Di dalam hutan, Bharata mencari Rama dan memberi berita duka karena Prabu Dasarata telah wafat.

Ia membujuk Rama agar kembali ke Ayodhya untuk menjadi raja. Rakyat juga mendesak demikian, namun Rama menolak karena ia terikat oleh perintah ayahnya. Untuk menunjukkan jalan yang benar, Rama menguraikan ajaran-ajaran agama kepada Bharata. Akhirnya Bharata membawa sandal milik Rama dan meletakkannya di singasana. Dengan lambang tersebut, ia memerintah Ayodhya atas nama Rama.

Ada kisah yang sangat menarik pada saat Rama akan meninggalkan kerajaannya. Sri Rama menjumput sebongkah tanah tepat sebelum dia menginjakkan kaki keluar batas kerajaannya dan menyimpannya dalam suatu bungkusan kain. Tanah tersebut beliau bawa dengan hati-hati dan penuh rasa pengabdian.

Pada saat beliau mencapai suatu lokasi di dalam hutan dan membangun pondokan, beliau membangun altar khusus tempat dimana beliau menaruh tanah tersebut. Tanah tersebut selanjutnya menjadi objek media pemujaan yang beliau lakukan setiap hari terhadap tanah air dan kerajaannya. Dalam banyak doa, beliau melantunkan pujian yang mendalam akan keagungan tanah airnya yang beliau kenang lewat sebongkah tanah yang beliau bawa tersebut.

Apa yang dilakukan oleh Sri Rama adalah merupakan contoh sikap cinta tanah air luar biasa. Beliau selalu mendoakan yang terbaik bagi kerajaannya meski beliau sendiri terbuang. Tentu saja bongkahan tanah yang beliu bawa hanya tanah biasa, namun tanah tersebut beliau jadikan media untuk memuja ibu pertiwi tempat dimana beliau dilahirkan dan dibesarkan. Bagi Sri Rama, tanah kelahiran dan tempat dibesarkan adalah tanah yang paling suci melebihi daerah lainnya.

Cinta Tanah Air Tertuang Dalam Banyak Sloka Veda

Kitab Suci Veda menuliskan banyak sloka yang mengrahkan para penganutnya untuk cinta tanah air. Mungkin karena alasan tersebut juga lah, sangat jarang pengikut Veda yang memiliki semangat memberontak untuk mendirikan agama sendiri berbasis agamanya, atau berusaha berhianat dari negaranya demi untuk membela negara lain yang dianggapnya lebih suci dan lebih baik.

Dalam kitab undang-undang hukum Dharma disebutkan;

“ahavesu mitho ‘nyonyam

jighamsamso mahi-ksitah

yuddhamanah param saktya

svargam yanty aparam-mukhah,

Artinya, di medan perang seorang kesatrya yang bertempur membela tanah airnya memenuhi syarat untuk mencapai planet-planet surga”. Pernyataan yang serupa dengan sloka di atas juga dapat kita temukan dalam banyak sloka-sloka Bhagavad Gita, seperti misalnya pada sloka 2.32 dan 2.37.

Tanah Air adalah ibu pertiwi tempat kita lahir dan tumbuh. Tanah air harus kita bela sampai titik darah penghabisan karena itulah jati diri kita. Itulah dharma seorang Ksatrya. Lalu bagaimana dengan anda?

sumber www.narayanasmrti.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here